Kamis, 05 Agustus 2010

AGENCY THEORY

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam mempelajari Agency Theory dalam praktek akuntansi, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu sebenarnya akuntansi. Sehingga kita dapat mengetahui latar belakang bagaimana bisa terbentuknya Agency Theory dalam praktek akuntansi. Selain itu, kita juga dapat mengetahui keterkaitan Agency Theory dalam praktik akuntansi dan apa peranan agency theory itu sendiri dalam praktek akuntansi.

Awalnya Akuntansi seperti halnya bidang pengetahuan yang lain belum tersentuh oleh Akademisi, Peneliti dan Scientist lainnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman atau kemajuan teknologi bidang Akuntansi mulai mendapat perhatian dari kalangan peneliti dan ilmuwan. Dimana kemajuan dan perkembangan Ekonomi sudah mulai meningkat dan para pelaku bisnis pun mulai bermunculan. Tentunya hal ini perlu didukung oleh kehadiran Akuntansi yang akan menunjang terhadap perkembangan dan kemajuan Ekonomi tersebut.

Proses akuntansi sendiri tidak terlepas dari peran para akuntan itu sendiri. Dimana peran akuntan dalam perusahaan tidak bisa terlepas dari penerapan prinsip kewajaran (fairness), akuntabilitas (accountability), transparansi (transparency), dan responsibilitas (responsibility).

Dari proses dan sistem akuntansi tersebut kita bisa mengetahui mengenai perkembangan dan kemajuan perusahaan-perusahaan serta baik buruknya kinerja perusahaan. Proses Akuntansi biasanya dimulai dari proses Pencatatan, Pengklasifikasian, Pengikhtisaran, sampai pada Pembuatan Laporan Keuangan. Maka dengan adanya kemajuan teknologi yaitu sistem komputerisasi tentunya akan sangat membantu terhadap proses Akuntansi yang dimaksud. Kita hanya tinggal memasukkan data dan secara cepat hasil yang diinginkan pun akan segera diperoleh, dengan tingkat kesalahan yang relatif rendah.

Atas proses dan sistem akuntansi ini maka perlu dilakukan suatu penelitian akuntansi. Dimana penelitian akuntansi merupakan suatu upaya untuk mencari kebenaran dibidang akuntansi. Hasil dari penelitian akuntansi ini merupakan penyambung antara fenomena sosial dibidang akuntansi dengan Struktur Teori Akuntansi. Karena kita tahu bahwa kebutuhan masyarakat akan informasi akuntansi terus berkembang dari waktu kewaktu. Sehingga hal ini menimbulkan usaha-usaha untuk merumuskan teori-teori akuntansi yang lebih fleksibel dan relevan dengan perkembangan zaman dan pola pikir masyarakat yang terus meningkat Usaha-usaha yang dicari dalam mencari kebenaran ini dimaksudkan untuk mengembangkan disiplin akuntansi sehingga menjadi lebih bermanfaat bagi perusahaan dan masyarakat.

Penelitian dibidang akuntansi terus menerus dilakukan oleh para peneliti akuntansi dan telah memberikan sumbangan yang demikian besar terhadap perkembangan Teori Akuntansi pada khususnya dan profesi akuntansi pada umumnya. Salah satu bidang akuntansi yang diteliti diantaranya adalah Teori Keagenan (Agency Theory). Agency Theory merupakan bidang yang popular akhir-akhir ini.Agency Theory ini menjelaskan bahwa perusahaan adalah tempat atau intersection point bagi hubungan kontrak yang terjadi antara manajemen, pemilik , lreditur, dan pemerintah. Teori keagenan yang mulai berkembang mengacu kepada pemenuhan utama dari manajemen keuangan yaitu memaksimalisasi kekayaan atau keuntungan yang diperoleh oleh pemegang saham.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dapat diidentifikasi sebagai berikut:

a. Apa yang dimaksud dengan Agency Theory?

b. Pendekatan-pendekatan apa saja yang dilakukan dalam Agency Theory tersebut?

c. Bagaimana Agency Theory dalam praktek akuntansi?

1.3 Maksud Dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan berdasarkan identifikasi masalah diatas adalah:

a. Untuk mengetahui Agency Theory

b. Untuk mengetahui dan memahami mengenai pendekatan-pendekatan dalam Agency Theory

c. Untuk mengetahui Agency Theory

1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan dan penyusunan makalah ini yaitu dengan menggunakan studi kepustakaan dimana kami mengumpulkan berbagai buku sumber dan literatur yang relevan terhadap pembahasan

BAB. II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam Seminarnya yang bertema Stockholder, Manager, and Creditor Interests:

Applications of Agency Theory, Michael C. Jensen dan Clifford W. Smith, Jr.

Mengaskan an agency relationship is a contract in which one or more persons (the principal(s)) engage another person (the agent) to take actions on behalf of the principal(s) which involves the delegation of some decision-making authority to the agent. Spence and Zeckhauser (1971) and Ross (1973) provide early formal analyses of the problems associated with structuring the agent’s compensation to align his incentives with Jensen and Smith 3 1985 the interest of the principal. Jensen and Meckling (1976) argue that agency problems emanating from conflicts of interest are general to virtually all cooperative activity among individuals, whether or not they occur in the hierarchical fashion suggested by the

principal-agent analogy.

Teori keagenan

mengatakan bahwa perusahaan yang tumbuh (perusahaan kecil yang berada pada

pasar yang baru berkembang sehingga resiko bisnisnya tinggi) maka manajemen

akan meminta tambahan insurance yang lebih tinggi, ceteris paribus insentif tetap

(Gaver dan Gaver, 1993).

Perasaan adanya ketidakadilan menurut penelitian Herzberg, Mausner dan

Snyderman (1959) merupakan salah satu sumber ketidakpuasan kerja. Teori

equity mendasarkan diri kepada penjelasan atas fenomena ketidakadilan ini atau

sering disebut inequity (Miner, 1980: 107). Mengapa ketidakadilan bisa terjadi?

Menurut Pinder (1984: 114), orang cenderung untuk melakukan pembandingan

mengenai perlakuan yang mereka terima dengan perlakuan yang diterima orang

lain. Pembandingan ini memunculkan penilaian apakah individu tersebut berada

dalam keadaan equity, under-reward atau over-reward.

Teori keagenan mengatakan bahwa sulit untuk mempercayai bahwa manajemen (agent) akan selalu bertindak berdasarkan kepentingan pemegang saham (principal), sehingga diperlukan monitoring dari pemegang saham (Copeland dan Weston, 1992: 20).

Teori keagenan klasik juga membahas adanya trade-off antara insurance dan insentif yang dipengaruhi oleh resiko yang dihadapi manajemen (Gibbsons, 1996).

Menurut Jensen (1986), agency problem timbul karena orang cenderung untuk mementingkan dirinya sendiri dan munculnya konflik ketika beberapa kepentingan bertemu dalam suatu aktivitas bersama.

Walaupun Lepper dan Greene (1978) dalam Pinder (1984: 123) menemukan bahwa uang (kompensasi) menimbulkan defisiensi dalam penelitian teori equity, namun kompensasi tetap digunakan karena penelitian ini mengaitkan relevansi kompensasi dalam teori keagenan yang berargumentasi bahwa kompensasi merupakan elemen penting dalam mengurangi masalah keagenan. Teori keagenan dalam perkembangannya terbagi menjadi dua aliran (Eisenhardt, 1989) yaitu positivist teori dan principal-agent research. Strategi kompensasi yang dalam learning theory disebut sebagai positive reinforcement (Robbins, 1998: 72)

Kompensasi terutama dalam bentuk uang dikatakan oleh Herzberg sebagai faktor hygiene sekaligus faktor motivation atau dengan kata lain merupakan faktor yang “belum sepenuhnya” mempengaruhi kinerja individu (Herzberg, 1976: 305).

Teori equity menempatkan kompensasi sebagai salah satu variabel yang menentukan ada tidaknya situasi “keadilan” dalam perusahaan (Miner, 1980:108)

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Agency Theory

Agency Theory merupakan bidang yang popular akhir-akhir ini, teori ini menyebutkan bahwa perusahaan adalah tempat atau intersection point bagi hubungan kontrak yang terjadi antara manajemen, pemilik, kreditur, dan pemerintah. Teori ini bercerita tentang monitoring berbagai macam biaya dan memaksakan hubungan diantara berbagai kelompok.

Teori agen adalah suatu arah yang baru tentang keagenan. Korporasi adalah tempat atau titik persimpangan dari banyak hubungan jenis sesuai kontrak yang ada antar manajemen, pemilik, kreditur, dan pemerintah.

Teori keagenan yang mulai berkembang mengacu kepada pemenuhan tujuan utama dari manajemen keuangan yaitu memaksimalkan kekayaan kekayaan pemegang saham. Maksimalisasi kekayaan ini dilakukan oleh manajemen yang disebut agen. Ketidakmampuan atau keengganan manajer untuk meningkatkan kekayaan pemegang saham menimbulkan apa yan disebut masalah keagenan.

Audit misalnya dianggap sebagai alat meyakinkan diri bahwa laporan keuangan harus tergantung pada pemeriksaan dari aspek pengawasan intern. Seandainya laporan hasil pemeriksaan akuntan adalah wajar, ini berarti bahwa penyajian telah sesuai dengan prinsip akuntansi. Dalam hal ini audit memberikan keyakinan kepada pihak luar, pemilik, dan kreditur pengelolaan perusahaan oleh manajemen yang disebut sebagai agen. Ketidakmampuan atau keengganan manajemen untuk meningkatkan kekayaan pemegang saham menimbulkan apa yang disebut masalah keagenan

Teori akuntansi akan sangat bermanfaat apabila rumusan teori ini dapat dijadikan alat untuk meramalkan apa yang diharapkan mungkin terjadi dimasa yang akan datang. Kalau demikian halnya mestinya setiap Negara harus memiliki dan merumuskan teori akuntansinya sendiri yang disimpulkan dari kondisi dan fenomena ekonomi sosial yang dimilikinya, bukan mengambil alih sepenuhnya dari susunan teori akuntansi Negara lain.

Salah satu hipotesis dalam teori agency ini adalah bahwa manajemen akan mencoba memaksimalkan kesejahteraannya sendiri dengan cara meminimalisir berbagai biaya agency. Hipotesis ini tidak sama artinya dengan hipotesis yang menyebutkan bahwa manajemen mencoba memaksimalkan nilai perusahaan (value of the frim). Oleh karena itu, manajemen diasumsikan akan memilih prinsip akuntansi yang sesuai dengan tujuannya memaksimalkan kepentingannya. Pendekatan dalam teori agency ini bisa induktif atau deduktif. Pendekatan teori agency ini bukan bidang keuangan atau ekonomi tetapi psikoligi dan sosiologi.

3.2Pendekatan-Pendekatan dalam Agency Theory

3.2.1 Pendekatan Deduktif

Dalam metode ini perumusan teori dimulai dari perumusan dalil dasar akuntansi (postulat dan prinsip akuntansi) dan selanjutnya dari rumusan dasar ini diambil kesimpulan logis tentang teori akuntansi mengenai hal yang dipersoalkan. Jadi perumusan dimulai dari dalil umum kepada dalil khusus. Pendekatan ini dilakukan dalam penyusunan struktur akuntansi dimana dirumuskan dahulu tujuan laporan keuangan, rumuskan postulat, kemudian prinsip, dan akhirnya lebih khusus menyusun teknik akuntansi.Dalam hai ini, teori diuji dari posisinya dalam menampung keinginan praktik. Jika pemakai dalam praktik diterima, dianggap teori ini diterima atau verified, sebaliknya jika teori ini tidak diterima disebut falsified.

Beberapa pendukung metode ini adalah: Paton, Caaning, Sweeney, Macneal, Alexander, Edward and Bell, Moonitz, dan Sprouse and Moonitz

3.2.2 Pendekatan Induktif

Dalam metode ini, penyusunan teori akuntansi didasarkan pada beberapa observasi dan pengukuran khusus dan akhirnya dari berbagai sample dirumuskan fenomena yang seragam atau berulang (informasi akuntansi) dan diambil kesimpulan umum (postulat dan prinsip akuntansi). Tahap yang dilaluimadalah:

1. Mengumpulkan semua observasi

2. Analisis dan golongkan observasi berdasrkan hubungan yang berulang-ulang dan sejenis, seragam, mirip.

3. Ditarik kesimpulan umum dan prinsip akuntansi yang menggambarkan hubungan yang berulang-ulang tadi.

4. Kesimpulan umum diuji kebenarannya.

Tidak seperti pendekatan deduktif, dalam pendekatan induktif ini kebenaran dan kepalsuan dalil tidak tergantung pada dalil lainnya, tetapi harus melalui pengujian empiris. Dalam pendekatan induktif, kebenaran suatu dalil tergantung pada pengamatan terhadap contoh yang cukup dari hubungan kasus yang berulang-ulang dan seragam. Para teoritisi yang menggunakan pendekatan ini adalah Hatfield, Gilman, Littlelton, Paton and Littlelton, dan Ijiri.

3.2.3 Pendekatan Sosiologis

Dalam pendekatan ini, yang menjadi perhatian utama dalam perumusan teori akuntansi adalah dampak social dari teknik akuntansi. Jadi yang menjadi perhatian bukan pemakai langsung akuntansi tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. Pendekatan inilah sebagai embrio socio economic accounting atau social responsibility accounting. Pendekatan ini seolah merupakan perluasan dari konsep etik dimana yang menjadi fokus perhatian adalah kesejahteraan seluruh masyarakat bukan saja pemilik.

Menurut konsep ini, prinsip akuntansi dinilai dari penerimaan dari seluruh pihak terhadap laporan keuangan, khususnya yang melaporkan tentang damapak perusahaan terhadap masyarakat. Akuntansi dalam model ini harus dapat memberikan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan terhadap kesejahteraan masyarakat. Para penulis yang mengkaji isu ini adalah Belkaoji dan Beams dan Fertig, Ladd, Littlelton, dan Zimmerman.

3.3 Agency Theory Dalam Praktik Akuntansi

Teori keagenan memberikan peranan penting bagi akuntansi terutama dalam menyediakan informasi setelah suatu kejadian yang disebut sebagai peranan pasca keputusan. Peranan ini sering diasosiasikan dengan peran pengurusan (stewardship) akuntansi, dimana seorang agen melapor kepada prinsipal tentang kejadian-kejadian dimasa lalu. Inilah yang memberi akuntansi nilai umpan baliknya selain nilai prediktifnya.

Dimana nilai umpan balik menjelaskan bahwa informasi juga mempunyai peran penting dalam menguatkan atau mengoreksi harapan-harapan sebelumnya. Suatu keputusan jarang sekali dibuat secara terpisah. Informasi mengenai hasil dari suatu keputusan seringkali merupakan masukan kunci dalam pengambilan keputusan berikutnya. Akuntansi idealnya menyediakan jasa yang sama bagi investor, dengan memungkinkan mereka untuk menyesuaikan strategi investasi mereka sepanjang waktu.

Dari model ini dan perluasannya dapat diambil beberapa pengertian. Perluasan ini sebagian besar berhubungan dengan cara kedua belah pihak tersebut berbagi risiko dan informasi. Misalnya, para pemilik yang menghindari risiko diasumsikan menanggung risiko bisnis, sementara para manajer bertindak sebagai agen-agen yang netral terhadap risiko yang dimaksud. Dengan menggunakan teori keagenan yang sama, jika manajemen bersikap tidak membedakan terhadap risiko sedangkan pemilik menghindari risiko, maka manajemenlah dan bukan pemilik yang akan menanggung risiko tersebut.

Ini merupakan keadaan saling mempengaruhi penghindaran risiko relatif antara manajer dan pemilik perusahaan yang menciptakan sebagian dari masalah-masalah yang paling menarik dalam teori keagenan untuk para akuntan. Informasi yang dimaksud merupakan salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian, sehingga memberi akuntan peran penting dalam pembagian risiko antara manajer dan pemilik perusahaan.

Asimetri informasi merupakan pembahasan terakhir dalam bidang teori keagenan yang memfokuskan pada masalah-masalah yang ditimbulkan oleh informasi yang tidak lengkap, yaitu ketika tidak semua keadaan diketahui oleh kedua belah pihak dan sebagai akibatnya, ketika konsekuensi-konsekuensi tertentu tidak dipertimbangkan oleh masing-masing pihak yang bersangkutan. Misalnya, pihak pemilik perusahaan mungkin tidak mengetahui preferensi manajer perusahaan sehingga tidak sulit bagi keduanya untuk melakukan kepentingan perhitungan yang telah disebutkan sebelumnya.

Satu contoh kasus yang menyangkut informasi yang tidak lengkap dalam teori keagenan, dapat terjadi apabila pihak pemilik perusahaan tidak dapat mengamati semua aksi pihak manajer perusahaan. Aksi-aksi yang dimaksud mungkin berbeda dari aksi yang lebih disukai pihak pemilik perusahaan, entah karena manajer perusahaan mempunyai perangkat efisiensi yang berbeda atau data pula karena pihak manajer tersebut sengaja mencoba untuk melalaikan tugasnya sebagai manajer perusahaan atau biasa juaga melakukan penipuan terhadap pemilik perusahaan.

Situasi ini tentunya dapat menciptakan apa yang dikenal dengan istilah sebagai masalah kekacauan (moral hazard). Salah satu solusi yang mungkin dapat dilakukan yaitu dengan cara pihak pemilik perusahaan menugaskan seorang auditor untuk melakukan pemeriksaan mengenai apa yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan tersebut. Sedangkan solusi yang lainnya dapat dilakukan dengan cara memberikan pihak manajemen perusahaan suatu insentif, seperti misalnya, saham yang ada diperusahaan, untuk menyelesaikan preferensi manajemen perusahaan dengan preferensi pihak pemilik perusahaa

3.4 Hubungan Antara Insider dan Ownership dalam Agency Theory

Perbedaan kepentingan antara pemilik, karyawan dan manajer suatu
perusahaan sering menimbulkan konflik antar kelompok atau sering juga
disebut sebagai agency problem. Biaya-biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk mengurangi konflik antar kelompok disebut agency
cost.
Di dalam teori agency, antara insider ownership, kebijakan-kebijakan,
debt dan dividend dapat dihubungkan secara langsung dan terkait bukan
saja dengan atribut-atribut spesifik perusahaan yang sama, tetapi
secara langsung dengan satu sama lain. Dari segi hubungan langsung dan
tak langsung di antara kebijakan-kebijakan ini, memotivasi untuk
melakukan penelitian ini.

Jensen dan Meckling (1976) memberikan sebuah analisis mengenai
efek-efek dari konflik agency di antara ketiga kelompok tersebut.
Analisis mereka menunjukkan bahwa proporsi ekuitas yang dikontrol oleh
para insider dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan perusahaan. Leland
dan Pyle (1977) dan Ross (1977) menyajikan hipotesis bahwa insider
ownership dan kebijakan finansiil dapat membantu menyelesaikan
asimetri informasional antara para manajer dan investor eksternal.

Mendukung penelitian Leland dan Pyle (1977), Ross (1977) dan
Easterbrook (1984) didalam penelitiannya menyatakan bahwa untuk
mengurangi biaya keagenan atau agency cost diperlukan adanya
pembayaran dividend. Akan tetapi pembayaran dividend ini akan
berpengaruh pada kebijakan pendanaan perusahaan, karena pembayaran
dividend akan mengurangi cash flow perusahaan, sehingga dalam memenuhi
kebutuhan operasionalnya perusahaan akan dipaksa untuk mencari
alternatif sumber pendanaan yang relevan.


Peneliti lain Demzet dan Lehn (1985) mengajukan alasan yang lebih
persuasif bahwa pilihan-pilihan insider ownership merupakan hasil
endogen dari value-maximising behavior. Jika insider ownership itu
sendiri endogen, bukti terdahulu mengenai insider ownership yang
mempengaruhi kebijakan debt dan dividend dapat menyesatkan.

Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu tersebut Jensen, et.al
(1992) melakukan pengujian tentang determinan - determinan dari
perbedaan cross sectional antara insider ownership, kebijakan debt dan
dividend. Hasilnya menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut
tidak hanya berkaitan secara langsung, tetapi juga tidak langsung,
lewat hubungannya dengan karekteristik-karekteristik operasional
perusahaan.

Hipotesis yang dikembangkan didasarkan pada pendapat bahwa interaksi
antara kebijakan-kebijakan debt dan dividend dengan insider ownership
dapat dihubungkan dengan asimetri-asimetri informasional antara pihak
insider (direktur dan komisaris) dengan para investor eksternal.
Kebijakan-kebijakan debt dan dividend serta insider ownership dapat
memberi manfaat yang berlebihan di dalam mengurangi agency problem.
Pada saat yang sama, terdapat biaya-biaya yang dikaitkan dengan
penggunaan masing-masing kebijakan. Debt dapat mengurangi cash flow
bebas apabila dapat menciptakan konflik baru antara kreditor dan
pemilik. Demikian juga, kebijakan dividend dapat mengurangi asimetry
informasional jika perubahan-perubahan dividend merupakan sinyal yang
berarti.
Evaluasi terhadap model simulasi antara kebijakan insider ownership,
debt, dan dividend menunjukkan bahwa model simulasi yang terbentuk
adalah cukup baik.

Saran yang dapat diberikan kepada pihak manajemen yang ingin
meminimumkan biaya agency diharapkan dapat memperhatikan ketiga
kebijakan tersebut.
3.5 Proposisi Teori Keagenan dan Teory Equity pada Kebijakan Kompensasi.

Sampai pada saat ini, bagi sebagian besar ahli keuangan, menganggap bahwa kompensasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menekan biaya keagenan. Hal tersebut cukup beralasan karena, kompensasi merupakan suatu sarana bonding bagi para pemegang saham agar manajemen dapat bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para pemegang saham tersebut.

Dalam teori keagenan mengatakan bahwa pada suatu perusahaan yang tumbuh (perusahaan kecil yang berada pada posisi pasar yang baru berkembang sehingga resiko bisnisnya tinggi ) maka manajemen akan meminta tambahan insurance yang lebih tiggi, cateris paribus insentif tetap (Gaver dan gaver, 1993 ). Insurance dan insentif merupakan unsur-unsur kompensasi yang merupakan strategi bonding.

Penelitian-penelitian keuangan yang membahas mengenai kompensasi pada umumnya menemukan bahwa kompensasi mempunyai hubungan yang positif terhadap kinerja suatu perusahaan seperti penelitian Hasan, Christopher dan Evans (1998), Gregg, Machin dan Szymanski (1993), Conyon dan leech (1994), Conyon and Gregg (1994), Conyon, Gregg dan Machin (1995), Main, Bruce, dan Buck (1996) dan Conyon (1997). Kinerja suatu perusahaan merupakan salah satu variable untuk menjelaskan keberhasilan program kompensasi.

Pengaruh kompensasi terhadap kebijakan pendanaan ( Berger, Ofek, dan Yermack, 1997) dan kebijakan deviden ( Hartono, 2000 ) secara umum menunjukkan bahwa strategi bonding yang dilakukan oleh para pemegang saham dalam mengurangi masalah keagenan dan berdampak kepada pengambilan keputusan stratejik suatu perusahaan.

Perilaku manajemen yang tidak sesuai dengan keinginan para pemegang saham ini oleh ahli-ahli keuangan mencoba menjelaskan dengan menggunakan data-data keuangan yang ada, terutama penyimpangan-penyimpangan data estimasi dengan data actual atau data yang sebenarnya. Namun, oleh para ahli behavioral, pendekatan yang digunakan berbeda sama sekali dengan pendekatan yang digunakan oleh para ahli keuangan. Mereka menggunakan factor-faktor individual untuk menjelaskan penyimpangan tersebut.

Ketidakadilan menjadi salah satu alasan mengapa manajemen tidak melakukan apa yang menjadi keinginan para pemegang saham. Ketidakadilan ini dijelaskan melalui teori equity. Teori aquity menempatkan kompensasi sebagai salah satu variable yang manantukan ada tidaknya suatu situasi “keadilan” dalam perusahaan (Miner, 1980;108 ).

Apakah reward ( kompensasi ) yang diperoleh pekerja sesuai dengan sumber daya yang dikeluarkannya ? Penelitian ini membahas kompensasi sebagai variable keadilan dalam teori equity sekaligus sebagai variable dalam strategi bonding teori keagenan, yang secara keseluruhan akan bedampak kepada kinerja suatu perusahaan.

Kedua teori tersebut, baik teori equity maupun teori keagenan secara esensi mencoba mencari jawaban atas adanya penyimpangan perilaku manajemen dari keinginan para pemegang saham itu sendiri.

Kompensasi sebagai salah satu variable yang digunakan dalam mengurangi masalah-masalah keagenan, dan disandingkan dengan teori equity untukmenjelaskan keadaan inequity yang akan mempengaruhi kinerja suatu perusahaan.

BAB IV

KESIMPULAN

Dalam ilmu Akuntansi seperti halnya bidang pengetahuan yang lain, Agency Theory masih terus diteliti oleh Akademisi, Peneliti dan Scientist lainnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman atau kemajuan teknologi bidang Akuntansi, khususny Agency Theory mulai mendapat perhatian dari kalangan peneliti dan ilmuwan. Dimana kemajuan dan perkembangan Ekonomi sudah mulai meningkat dan para pelaku bisnis pun mulai bermunculan dan banyak bersaing dalam meningkatkan usahanya. Tentunya hal ini perlu didukung oleh kehadiran ilmu akuntansi yang akan menunjang terhadap perkembangan dan kemajuan Ekonomi tersebut.

Agency Theory merupakan bidang yang popular akhir-akhir ini, teori ini menyebutkan bahwa perusahaan adalah tempat atau intersection point bagi hubungan kontrak yang terjadi antara manajemen, pemilik, kreditur, dan pemerintah. Teori ini bercerita tentang monitoring berbagai macam biaya dan memaksakan hubungan diantara kelompok ini.

Kompensasi sebagai salah satu variable yang digunakan didalam mengurangi masalah keagenan, dan disandingkan dengan teori equity untuk menjelaskan keadaan inequiti yang mempengaruhi kinerja perusahaan.

Teori keagenan memberikan peranan penting bagi akuntansi terutama dalam menyediakan informasi setelah suatu kejadian yang disebut sebagai peranan pasca keputusan. Peranan ini sering diasosiasikan dengan peran pengurusan (stewardship) akuntansi, dimana seorang agen melapor kepada prinsipal tentang kejadian-kejadian dimasa lalu. Inilah yang memberi akuntansi nilai umpan baliknya selain nilai prediktifnya.

DAFTAR PUSTAKA

Jusuf, Amir Abadi. 2004. Akuntansi Keuangan Lanjutan. Jakarta : Salemba Empat

Belkaoui.2000. Teori Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat

Harahap, Sofyan Syafri.2007. Teori Akuntansi. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.

Jensen, Michael C. stockholder, manager, and creditor interests: applications of agency theory .Harvard Business School MJensen@hbs.edu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar